Rabu, 21 Januari 2015

Transportasiku


Efektif dan efesien. Dua kata yang diharapkan dapat dilakukan secara bersama dalam menjalani apapun yang kita lakukan, untuk mencapai tujuan baik. Singkat cerita efektif berarti kita dapat mencapai tujuan secara maksimal dengan memilih cara yang tepat dari serangkaian alternatif, sedangkan efesien berarti kita menghemat uang, waktu dan tenaga untuk mencapai tujuan. Apa benar kudua kata tersebut dapat dilakukan secara berdampingan? Mari kita simak ilustrasi ini:


Cara mana yang efektif dan efesien untuk mencapai tujuan (C)? (Silahkan dijawab terlebih dahulu.)
*        Cara no1 melalui jalan setapak (A ke B ke C) yang artinya mencapai tujuan dengan keadaan yang bersih (efektif) tetapi membutuhkan waktu yang lebih lama (tidak efesien).
*        Cara no2 melalui lapangan yang becek (A ke C) yang artinya mencapai tujuan dengan waktu yang lebih cepat (efesien) tetapi dengan keadaan yang tidak bersih (tidak efektif).
*        Cara no3 dan cara lainnya?.
Cara 1dan2 tersebut menunjukan bahwa efektif dan efesien tidak dapat dilakukan secara berdampingan. Apakah kesimpulannya efektif dan efesien memang tidak bisa dilakukan secara berdampingan?  Tunggu dulu. Jangan terburu-buru untuk menyimpulkannya. Bukannya masih ada cara ketiga dan cara lainnya yang belum diketahui seperti apa itu. Seperti memilih jalur AC dengan memakai sepatu boot dan mengganti dengan sepatu biasa setelah sampai tujuan. Artinya mencapai tujuan dengan waktu yang lebih cepat (efesien) dengan keadaan yang bersih (efektif).
Memikirkan cara no3 memang tidak secepat memikirkan cara no1 dan no2, tapi bukannya memang untuk mendapatkan sesuatu yang terbaik membutuhkan pemikiran dan usaha yang lebih. Sama seperti masalah transportasi di Indonesia, membutuhkan pemikiran dan usaha yang lebih untuk  menyelesaikannya. Kemacetan misalnya, hal yang sangat sulit dihindari di jam-jam berangkat dan pulang kerja. Hal ini tentunya tidak lepas dari semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan alat transportasi pribadi dalam kehidupan sehari-hari (termasuk saya sendiri), dan akibatnya semakin terlupakannya alat transportasi umum di daratan ini. Hal tersebut terlihat dari data perkembangan kendaraan bermotor yang dirilis oleh BPS yang menunjukan jumlah kendaraan dari th2002 sejumlah 18.975.344 hingga th2012  menjadi 94.373.324 yang artinya meningkat 20,11%  dan peningkatan terbesar di sumbang oleh kendaraan pribadi, dapat dilihat berdasarkan diagram di bawah ini.

Dari diagram tersebut nampak jelas komposisi tranpotasi pribadi menguasai jalanan dan transportasi umum seolah hanya sebagai pemanisnya. Lantas bagaimana cara mengatasi kemacetan yang terjadi? Cara efektif dan efesien yang seperti apa yang harus dilakukan? Meninggalkan transportasi pribadi dan beralih ke transportasi umumkah? Apa benar iu cara yang efektif dan efesien? Iya jika apa dan tidak jika apa?
Fakta dilapangan yang saya jumpai pada transportasi umum seperti Bus yang dikelola pemerintah Semarang yaitu B.R.T Bus Trans Semarang memiliki fasilitas AC dan biaya Rp 3.500,00 untuk dewasa dan Rp 2.000,00 untuk pelajar baik jarak dekat maupun jauh, hal tersebut membuat transportasi umum yang satu ini tergolong nyaman dan murah. Apakah hal itu juga terjadi pada transportasi umum lainnya? Saya rasa masih belum, masih sering terlihat keadaan bus yang sudah tidak enak dilirik mata, boro2 ada AC asap rokok adalah teman di transportasi umum ini. Belum lagi ketika kita menaiki bus atau angkutan umum yang sopirnya terkesan ugal-ugalan dalam mengemudi, dan tidak ketinggalan tindak kriminalitas masih sering terjadi. Walau demikian bus ini memiliki keuntungan yang dirasakan penumpang yaitu dapat naik dan turun dimana saja dalam artian tidak membutuhkan shelter bus yang terkadang cukup jauh dengan tujuan kita.
Kesamaan antara BRT dengan transportasi umum yang lainnya adalah waktu yang tergolong lama. Waktu tunggu kedatangan BRT misalnya, belum lagi pada jam berangkat dan pulang kerja. Shelter sangat penuh dengan calon penumpang yang antri dan sering kali  BRT yang datang tidak mampu menampung mereka yang telah antri panjang, yang akhirnya mereka harus menunggu BRT yang datang berikutnya. Berbeda cerita dengan angkutan umum (angkot), yang tidak perlu menunggu lama akan kedatangannya, yang menjadi masalah ketika sudah menaikinya dan penumpangnya sepi, angkot tersebut seakan enggan berjalan seolah asik ngetem. Alangkah jahatnya kita, jika kita harus marah kepada sopirnya, karena memang mereka harus menutupi setorannya dan mencukupi kelangsungan hidup keluarganya. System kerja yang seperti apa yang digunakan oleh pengelola angkot ini? Atau mungkin memang tidak ada system kerjanya, hingga bisa terjadi seperti itu?
Transportasi umum yang “ora umum”, tidak umum keadaanya. tidak umum lamanya, dan tidak umum systemnya. Transportasi umum memang lebih efektif jika ingin menyelesaikan masalah kemacetan, tapi amat sangat tidak efesien bagi masyarakat umum jika keadaannya yang terjadi seperti itu. Melihat keadaan yang seperti itu apa bisa menyalahkan pengguna transportasi pribadi yang semakin meningkat? Transportasi pribadi dipandang lebih efesien di bandingkan transportasi umum, lebih menghemat waktu dan biaya.
Memperbaiki system dan keadaan transportasi umum terlebih dahulu dan membuat kebijakan-kebijakan yang mendorong pengguna transportasi pribadi beralih ke transportasi umum. Saya rasa akan lebih efektif dan efesien untuk  mengurangi kemacetan yang menjadi masalah transportasi umum di kota-kota besar khususnya, jika hal tersebut dapat terlaksana. Tentunya tidak mudah memang, jika itu mudah dilakukan pastinya sekarang sudah tidak ada masalah kemacetan. Tidak mudah bukan berarti tidak bisa, selama pemerintah mampu memperbaiki system dan kondisi transportasi yang ada dan masyarakat mau bekerjasama dengan baik, kemacetan akan bisa teratasi dan itu artinya kita juga menyelamatkan masa depan bumi dengan mungurangi gas buang dari kendaraan.

Saya buat artikel di atas untuk mengikuti lomba menulis, tak ada juara 1-10 yang didapatkannya, lolos di tahap pertama saja (nice). Walau kayak gitu tetap memberikan saya pengalaman baru,  "marketing" iya, karna saya harus mempromosikan tulisan ini untuk di vote, dan vote yang saya dapatkan cukup jauh dari juara 1-10. :D, tapi tak lupa saya ucapkan terimaksih buat semua yang sudah vote, kurang lebih 150 vote saya dapatkan. sekarang saya kembali mengunggahnya dengan judul yang berbeda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar