Menerkam malam dengan kesantunanmu
Tertiup angin, hingga angkasa mengenal siapa dirimu
Menerjang ombak dengan keramahanmu
Terbawa arus, hingga lautan menyadari siapa dirimu
Terbawa arus, hingga lautan menyadari siapa dirimu
Dirimu memiliki ribuan
pulau dengan satu nama, Indonesia
Toleransi kau mengajarkanya, budaya timur kau dikenalnya
Pendopo membuatmu terlihat dekat dengan alam
terbuka
Padi,
menjadikanmu dikenal tidak individualis dimata dunia
Mereka
bukan Indonesia melihat kearifan budayamu hingga terpanah
Mereka
melihat alammu begitu melimpah tak membuatmu serakah
Mereka
mengakuimu begitu sabar, tegas tidak terlihat marah
Mereka
kembali karena senyumanmu begitu ramah tamah
Santun,
toleransi, ramah,
Mencintai alam,
tidak individualis, tak serakah,
Sabar, tegas
tidak terlihat marah, dan senyuman ramah tamah
Semua kearifan
budayamu itu memang terlihat istimewa dan mewah
Mampukah kau pertahankan budaya mu itu?
Dapatkah kau menjaganya walau budaya barat
memasukimu?
Akankah kau memperjuangkannya ditengah kemajuan
zaman yang megah?
Jika hatimu
tak percaya, yakinkan kau bisa demi kearifan budayamu yang mewah!
Kemajuaan zaman jangan membuatmu kehilangan jati
diri
Tetaplah berdiri
Globalisasi, jangan jadikan ancaman bagimu, ingat
kau tak sendiri
Tetaplah berdiri
Kau butuhkan tekhnologi dari luar tapi kau harus
tetap berdikari
Tetaplah berdiri
Tetaplah berdiri hingga penerusmu meneruskan budaya
dengan mandiri
Tetaplah berdiri
Kearifan budaya Indonesia
Tetaplah santun jangan bersimulasi
Tetaplah toleransi jangan intoleransi
Tetaplah ramah jangan angkuh
Tetaplah sabar jangan pemarah
Kearifan budaya Indonesia
Harus kau memperjuangkannya
Harus kau mempertahankannya
Harus kau menjaganya
Dan sekarang
Ketika banyak yang lupa
akan merundukkan
kepala
Pertanyaanku, kemana
perginya santunmu itu?
Ketika terjadi
pertengkaran
karena perbedaan
ada
Lagi ku bertanya, kemana
perginya toleransimu itu?
Ketika membentak melotot menjadi sebuah kebiasaan
Lagi-lagi kubertanya, kemana
perginya ramahmu itu?
Ketika menyela
antrian seolah seperti tak punya perasaan
Sekali lagi ku bertanya, kemana
perginya sabarmu itu?
Kaupun menjawab
Ketika hanya banyak, belum semuanya
lupa merundukan
Ketika hanya
terjadi, bukan penyebab
pertengkaran
Ketika hanya kebiasaan,
belum menjadi
kebudayaan
Ketika hanya seolah, bukan seperti tak punya perasaan
Ini bukan berarti aku gagal
Ini
semua tantangan bagi ku
Ku
harus memperjuangkannya
Ku
harus mempertahankannya
Ku
harus bisa
menjaganya
Karna ku ingat
Ketika
hatiku tak percaya, kuyakinkan ku bisa demi kearifan budayaku yang mewah!
KAN
KU PERTAHANKAN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar