Minggu, 11 Mei 2014

TERIAKAN PENGHUNI HUTAN

Sebuah kisah masa depen yang bermula dari hutan yang berada di Indonesia tepatnya di Pulau Sumatra, yaitu hutan hujan tropis di Ekosistem Leuser.
Hutan ini memiliki pohon yang tinggi dan juga lebat, jenisnya sangat bervariasi dan selalu hijau. Selain itu kita juga dapat melihat berbagai macam tumbuhan yang menempel seperti anggrek, jamur, dan lumut. Hiasan utama hutan hujan tropis ini adalah Liana yang merupakan tumbuhan yang bergantung dan menunjang pada tumbuhan utama. Liana ada yang berbentuk tipis seperti kawat dan ada juga yang berbentuk besar yang membentuk simpul-simpul tali raksasa. Kita sering melihat Liana dalam film Tarzan, the Adventure yang digunakan Tarzan untuk bergelantungan. Karena memang beberapa diantaranya dapat mencapai panjang hingga 200 meter. Jika kita berada di lapisan dasar hutan ini, kita merasa gelap dan lembab, penuh dengan lumut, karena memang sedikit sekali cahaya matahari yang mencapai dasar yang disebabkan adanya kanopi. Kanopi terbentuk karena adanya lapisan-lapisan dari cabang pohon beserta daunnya yang tumbuh lebat dan karena pohon di hutan ini tumbuh cukup rapat.

Hutan hujan tropis ini merupakan habitat yang nyaman untuk berbagai macam serangga yang memiliki warna yang tak kalah indah seperti warna pelangi. Selain itu, juga terdapat katak pohon, kadal, ular, burung, tupai, monyet, orang utan hingga binatang buas sepeti harimau. Ribuan bahkan ratusan tahun yang lalu hutan ini memang merupakan habitat yang sangat nyaman bagi hewan-hewan tersebut. Lantas bagaimana dengan sekarang, dan bahkan tahun-tahun kedepan? Masihkah nyaman bagi mereka? Apa atau siapa yang menyebabkan ketidak nyamanan hewan-hewan tersebut tinggal dirumahnya sendiri? Apa pedulinya manusia bila mereka tidak nyaman, bukankah manusia kebanyakkan tidak hidup berdampingan dengan mereka di hutan? Tapi, apa benar manusia tidak akan merasakan, dampak buruk dari ketidaknyamanan mereka?

Telah disebutkan bahwa hutan hujan tropis merupakan habitat dari orang hutan. Mari kita intip kisah Pongo abelii yang kita kenal dengan sebutan Orang Utan Sumatra. Dibenak saya timbul pertannyaan, kenapa namanya harus orang utan yang berarti orang atau manusia yang tinggal di hutan, atau mungkin memang Pongo abelii ini manusia yang dikutuk menjadi hewan?


Di sebuah sarang yang terbuat dari ranting, daun pohon yang dibuat pada pohon yang tinggi dan besar, terlihat ada dua orang utan yang tidur dengan pulasnya. Ada sang betina, Popu dan satu anaknya yang masih kecil, Elii . Elii masih tinggal bersama Popu karena usianya yang masih 3 tahun. Di sarang itu tak terlihat sang jantan menemani mereka, karena memang kehidupan orang utan jantan dewasa umumnya penyendiri.Berbeda dengan sang betina sering terlihat bersama anaknya yang berusia dibawah 7 tahun.

Waktu menunjukan pukul 05.00 saatnya orang utan untuk bangun dan memulai mencari makan. Setiap harinya Popu membangunkan Elii  untuk segera mencari makan. Makanan orang utan terdiri dari 60 % buah, 20 % bunga, 10% daun muda dan kulit kayu, dan 10% serangga.
Popu   : “Dek bangun, bangun..ini sudah jam 05.00sambil membelai kepala Elii.
Elii      : “5 menit lagi ya bundamenyingkirkan tangan sang bunda.
Popu   : “Tidak ada nanti-nanti, ayo bangun sekarang!dengan nada yang ditinggikan.
Tak lama kemudian Elli pun bangun, raut mukanya masih tergambar jelas rasa kantuk. Karena mau tak mau dia harus menuruti perintah bunda, karena Elii tau itu semua baik untuk masa depannya.
Popu   : “Anak bunda yang pandai, walau sekarang kamu masih belum terbiasa bangun pagi tapi nanti kamu pasti akan terbiasamengelus-elus kepala Elii.
Elii      : “Iya bundaku tersayangsambil tersenyum manja.
Popu   : “Selama ini bunda sudah mengajarkan kamu cara memanjat yang baik dan memilih makanan, jadi yang memilih makanan untuk hari ini adalah kamu dan bunda hanya menemani saja, setuju?bertanya kepada Elii
Elii   : “Setuju bunda, aku akan berusaha melakukan yang terbaikmenjawab dengan rasa penuh percaya diri.
Hari itu Elii merasa senang sekali, walau melakukan perjalanan sejauh 850m. Capek tak dirasakannya karena Elii melihat bundanya tersenyum bangga. Sang bunda bangga melihat keberhasilan Elii memilih makanan dan tidak terjatuh saat memanjat pepohonan. Rasa bangga itu tak semata-mata karena keberhasilan anaknya, tapi karena teringat usaha Elii. Berkali-kali terjatuh dari berlatih memanjat, Elii tetap semangat dan sama sekali tak mengeluh kepadanya.
Popo sang jantan, ayah dari Elii memanggil Elii dan teman-temannya yang masih berusia 3tahunan. Elii dan teman-temannya sangat senang karena mereka tau Popo akan berbagi crita. Sebelumnya Popo telah berjanji apabila Elii dan temannya sudah bisa memanjat dengan baik dan mampu mencari makan, Popo akan bercerita tentang masalalu nenekmoyang mereka. Elii dan temannya sangat penasaran karena banyak binatang-binatang di hutan yang sering membicarakan nenenkmoyangnya. Mereka juga sempat mendengar bahwa orang utan sekarang sebenarnya sudah terancam kepunahannya.
Popo memulai cerita dengan menginformasikan bahwa luas hutan yang menjadi rumah bagi binatang di Indonesianya dulu sangatlah luas dan rindang. Semenjak tahun 1990an hutan di Indonesia mulai ditebangi secara berlebihan untuk berbagi alasan. Kabarnya  hutan yang menjadi rumah kita ini luasnya mulai hilang  rata-rata 1,87 juta ha/ tahun. Popo juga menyatakan bahwa rumah orang utan dan binatang lainnya yang hidup di hutan telah kehilangan 80% wilayahnya, dalam waktu kurang dari 20 tahun. Sekarang ini, hanya 30% habitat orangutan yang dilindungi. Taman nasional, hutan lindung dan cagar alam. Sementara 70% tempat tinggal orangutan berada di luar daerah yang dilindungi, tidak ada yang bisa menjamin kehidupan mereka disana. 
Popo tiba-tiba terdiam sejenak kemudian melihat sekelilingnya lalu memandang Elii dan teman-temannya sambil berkata: “Apa kalian masih ingin mendengar cerita ini?Mereka menjawab masih ingin mendengarkan cerita Popo walau yang semula wajah mereka senang, sekarang berubah menjadi sedih karena membayangkan cerita Popo.
Cerita Popo tersebut menarik perhatian binatang-binatang lainnya seperti katak pohon, kadal, ular, burung, tupai, monyet, kupu-kupu hingga akhirnya mereka bersama-sama mendengarkan cerita Popo dengan seriusnya.
Popo   : “Sebelum melanjutkan cerita ada yang mau ditanyakan?
Popy (teman Elii): “Saya mau tanya Paman,untuk apa manusia menebang hutan, apa hutan ini tidak bermanfaat bagi manusia?” Sambil mengangkat tangannya.
Popo   : “Pertannyaan yang bagus, manusia menebang hutan bukan karena mereka tidak mendapatkan manfaat dari hutan ini. Justru mereka memanfaatkan kayu dari hutan ini untuk berbagai kebutuhan mereka, tapi mereka lupa. Mereka lupa manfaat hutan tidak hanya itu saja, tidak hanya untuk mereka saja. Popo sambil melihat sekeliling hutan. Hutan sebagai sumber air, pangan dan udara yang bersih dan sebenarnya manusia juga memerlukan sumber ilmu pengetahuan, rekreasi dan pariwisata, karena keanekaragaman hewan dan tumbuhan begitu juga dengan hutan yang bagus akan  mendatangkan wisatawan 
Elii     : “Kalau seperti itu bukannya manusia sebenarnya bisa menanam kembali pohon yang ada di hutan ini, ayah? Elii bertanya dengan polosnya. “Itu kan mudah, jadi hutan akan tetap ada dan akan tetap bermanfaat bagi kita semua, termasuk manusia sendiri.”Timpal Elii
Popo   : “Pandai sekali anak ayah ini, namun sayangnya masalah tidak hanya menebang hutan untuk diambil kayunya, tapi manusia juga membuka lahan hutan untuk menjadi perkebunan dan pertambangan secara besar-besaran. Seperti yang ayah bilang tadi, manusia lupa. Jika mereka mengambil manfaat hutan hanya untuk kebutuhan saat ini, mungkin masa depan generasi mereka akan hidup tanpa hutan. Artinya jutaan species yang telah terbentuk selama ribuan tahun yang lalu akan hilang begitu saja, termasuk kita ini. dan ” Terhenti karena celetus Ello.
Eloo (anak orang utan yang mendekati Elii): Manusia itu penjahat! Celetus Ello dengan nada yang cukup kesal, memotong pembicaraan Popo.
Popo: “Sebenarnya tidak seperti itu juga, karena jika kita perhatikan hanya sedikit manusia yang merusak hutan. Sayangnya mereka manusia yang baik hanya bisa diam saja tak mampu berbuat apa-apa. Jadi kita jangan menyalahkan manusia atau bahkan membencinya, karena sebenarnya mereka kasihan. Mereka yang merusak hutan ini, benar-benar kasihan karena melupakan kodratnya sebagai makhluk paling sempurna, yang diciptakan Tuhan untuk melestarikan bumi ini.” Nasihat Popo.
Eloo: “Benar juga sih Paman, beberapa waktu yang lalu aku melihat sekelompok manusia ada dihutan, mereka tidak merusak hutan ini, bahkan mereka nampak memperhatikan hutan ini dan ada pula yang menanam beberapa pohon Paman.” Ucap Eloo dengan nada yang tidak kesal lagi. “Pada waktu itu aku melihat raut muka mereka terlihat begitu menyayangi hutan ini Paman, seperti aku yang begitu menyayangi putri Paman, Elii yang begitu cantik.” Rayu Eloo, dengan mengedipkan satu matanya.
Semua yang mendengarkan rayuan Eloo memandang Elii dan menggodanya termasuk burung-burung yang memperhatikan cerita Popo.
Popo mengatakan akan melanjutkan bercerita kepada anak-anak orang utan, apa bila mereka semua sudah dapat membuat sarang. Hal itu dilakukan Popo untuk mengajarkan kepada mereka semua, apabila ingin mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan, mereka harus berusaha terlebih dahulu. Popo memang orang utan yang luar biasa, tak banyak orang utan jantan dewasa di hutan itu yang memberikan pembelajaran bagi anak orang utan. Hal itu mungkin karena pengalaman Popo yang begitu menyedihkan.

Pengalaman ketika harus melihat ayahnya pergi meninggalkannya, bukan meninggalkan hutan karena keinginannya tapi karena manusia yang memaksakannya. Manusia yang memaksakannya, beberapa manusia yang memaksakan keegoisannya. Manusia memburunya dan membawanya pergi untuk dijadikan binatang peliharaan manusia. Peliharaan manusia  untuk dirawat dan disayangi dirumah atau untuk prestis semata, hanya manusia itu yang tau.

Ketika itu Popo benar-benar membenci manusia, dia menganggap semua manusia itu sama, sama-sama penjahat, sama-sama tidak memiliki belas kasihan, sama-sama selalu memikirkan dirinya sendiri. Setelah ayahnya pergi Popo hanya bisa termenung disarang, yang teringat hanya tetes air mata ayahnya ketika dikerangkeng dan dimasukan kedalam kotak besi yang semakin lama-semakin menjauh. Menjauh darinya yang hanya bisa terdiam melihat ayahnya yang tidak akan pernah dilihatnya lagi. Popo merenungkan semua itu dan tetap menyalahkan dirinya yang tak bisa berbuat apa-apa melihat ayahnya pergi begitu saja.

 Ibu Popo sangat sedih melihat Popo seperti itu, hingga akhirnya ibu Popo nekat pergi dari hutan untuk membawa pulang ayah Popo. Hal yang tidak mungkin bisa terwujud, tapi Ibu Popo menganggap hal itu lebih baik dari pada dia, harus melihat anaknya termenung sepanjang hari. 
Ditengah perjalanan ibu Popo bertemu dengan Harimau. Ya Harimau, predator yang diciptakan alam untuk orang utan. Ibu Popo nampak pucat dan mulai ketakutan, dia mengeluarkan suara yang sangat keras yang terdengar seperti “grumph”. Suara itu terdengar oleh Popo yang termenung di sarangnya, yang berada kurang lebih 600meter dari posisi Ibunya. Popo tersadar itu suara ibunya, dia langsung bergelantungan dengan cepat untuk menghampiri suara yang terdengar minta tolong itu.

Popo sekuat tenaga bergelantungan dari satu pohon ke pohon yang lainya, sayang waktu itu Popo masih belum lincah, belum cepat. Popo nampak lelah bergelantungan, tapi hal itu tidak dirasakannya. Air mata Popo menetes, Popo takut tidak akan melihat ibunya lagi, Popo takut manusia membawa Ibunya pergi, Popo takut akan hidup sendirian tanpa orang tuanya, Popo takut hidup dengan terus membenci manusia.

Setibanya di tempat ibunya, Popo nampak terkejut, yang dilihatnya bukan manusia tapi seekor harimau yang hendak menerkam Ibunya. Popo berusaha menyelamatkan Ibunya dengan cara melompat ketubuh harimau. “Darr” terdengar suara tembakan. Tembakan yang diarahkan ke langit oleh polisi hutan yang kebetulan melintas disana. Suara itu membuat harimau takut dan meninggalkan Ibu Popo. Popo langsung menghampiri Ibunya dan Popo melihat darah keluar dari lengan Ibunya itu, hal itu membuat Popo semakin sedih dan menangis, Popo langsung memeluk Ibunya. Polisi hutan, langsung memisahkan mereka berdua, Popo semakin takut, takut Ibunya akan dibawa pergi Polisi hutan itu. Raut muka Popo menggambarkan rasa takutnya itu, namun rasa takut itu tiba-tiba berubah. Polisi hutan dan pecinta alam, menyelamatkan Ibu Popo, mereka selalu siap dengan obat-obatan yang ada ditasnya. Mereka segera merawat luka lengan Ibu Popo, yang syukurnya tidak begitu parah.

Setelah kejadian itu Ibu popo menasihati popo, dia menasihati Popo untuk tidak membenci manusia, karena tidak semua manusia itu jahat. Bahkan mereka yang memburu binatang dan merusak hutan sebenarnya tidak lebih banyak dari mereka yang baik. Peristiwa-peristiwa yang dialami Popo tersebut membuat Popo tumbuh menjadi remaja yang luar biasa. 

Sudah hampir satu bulan anak orang utan belajar membuat sarang dengan baik, dan itu tandanya Popo akan melanjutkan ceritanya kepada mereka. Mungkin yang akan diceritakan Popo kali ini tentang pengalaman pribadinya. Popo mengumpulkan semua anak orang utan yang berada dalam satu kelompoknya, dan masih sama dengan keadaan sebelumnya, banyak hewan yang ingin mendengarkan cerita Popo dan malah kali ini lebih ramai.
Eloo: “Paman mengumpulkan kami sekarang ini, pasti karena paman sudah melihat kami bisa membuat sarang dengan baik kan paman?” Tanya Eloo penuh rasa senang.
Popo: “Anak yang pintar, Elii” Popo memanggil Elii. “Eloo nampaknya cocok dengan mu anakku.” Popo menggoda Elii dan Eloo, semua yang mendengar tertawa senang melihatnya.
Eloo: “ Ah paman bisa aja, tp itu memang benar paman.” Eloo tersenyum lebar. Paman, bagaimana kalu aku bertanyaa sama paman, boleh?
Popo: “Tentu saja boleh Eloo, apa yang ingin kamu tanyakan?
Eloo: “Pertannyaanku ini mungkin juga menjadi pertanyaan semuanya Paman, aku pernah mendengar dari burung-burung, kalau kita ini termasuk hewan yang akan punah Paman, apa itu benar?” Tanya Eloo dengan wajah seriusnya.

Popo terkejut mendengar pertanyaan Eloo. Namun Popo merasa bertanggungjawab untuk menjawab pertannyaan itu, karena memang hak mereka untuk mengetahuinya. Popo menjelaskan bahwa banyak penyebab mengapa orang utan di katakan hewan yang akan punah. Penyebab pertama karena berkurangnya habitat orang utan yaitu hutan. Manusia mengeksplorasinya secara berlebihan dan terjadinya kebakaran. Kebakaran tak hanya menghanguskan hutan ini namun juga mengakibatkan tak jarang ada otang utan yang mati karenanya. Sebab yang kedua adalah dampak dari hutan ini yang semakin berkurang luasnya, yaitu perkelahian yang terjadi diantara kami, pejantan. Pejantan melakukan perebutan area, akibat penyempitan wilayah hutan ini. Penyabab selanjutnya adalah masa reproduksi kita sangatlah lamban. Orangutan betina yang berada dihutan ini dalam kurun waktu 6-7 tahun hanya dapat melahirkan sebanyak satu kali saja. Tidak hanya itu saja, perburuan liar juga menjadi penyebabnya. Tidak sedikit orang utan mati karena manusia menjadikan orang utan sebagai peliharannya, tidak mampu menjaganya secara baik dan benar.

Semua yang mendengar cerita Popo tersebut menjadi sedih, hal itu nampak jelas tergambar diraut mereka. Popo tak hanya diam, Popo langsung mencritakan hal yang dipikirkannya akan membuat anak orang utan menjadi bangga. Popo menceritakan nenek moyang mereka ikut andil dalam regenerasi hutan.  
400 jenis tumbuhan dapat berregenerasi di hutan melalui buah-buahan dan biji-bijian yang nenek moyang mereka makan, dan manusia menyebut hal itu seed disperser. Oleh karena itu bunda kalian mengajarkan kalian untuk mencari makanan yang benar, karena hal itu agar nantinya biji yang dikeluarkan akan menjadi bibit yang baik dan kelak menjadi pohon yang lebat. 
 
Popy: “Jadi punahnya kita nanti akan mempengaruhi hilangnya ratusan spesies tanaman dan hewan pada ekosistem hutan ini dong paman?” Tanya Popy
Popo: Tepat sekali, Popy” Jawab Popo santai.
Semua: “wah jadi kita ini hebat ya, orang utan itu penting untuk alam ini.”
Eloo: “Benarkan paman kita ini hewan yang hebat kan?” Pertanyaan penegasan Eloo dengan rasa bangga.
Popo: “Iya, memang sudah seharusnya semua makhluk hidup menjadi manfaat untuk alam ini, jadi kita juga harus bisa melestarikan alam ini.”
Semua: “Setuju pamaaaan” teriak semua penuh rasa bangga dan semangat.  

      Popo juga menegaskan pohon yang dapat tumbuh dan menghiasi hutan ini dapat mengurangi polusi dan banjir yang terjadi. Oksigen yang dihasilkan hutan akan menyelamatkan dunia dari ancaman gas yang membahayakan. Akar yang tumbuh subur di dalam tanah dapat menyerap air ketika hujan lebat dan mengurangi air mencapai pemukiman penduduk.

       Siang hari yang kali itu terasa sangat panas dirasakan Popo. Popo merasa lelah dan capek entah apa yang membuat itu semua, hingga akhirnya dia hanya terdiam, istirahat di sarangnya. Disarang lain Elii dan teman-temannya bermain dengan senangnya, mereka bercanda gurau disaksikan bundanya yang ada di bawah pohon mengumpulkan makanan yang sudah di cari Elii dan teman-temannya. Burung, kera, ular dan binatang laiinya terlihat damai, berkumpul dibawah pohon yang besar yang dijadikan Popo sebagai sarangnya. Hari itu nampak indah, suasana hutan yang rindang begitu nyaman bagi hewan-hewan yang mendiami hutan tersebut.
Disisi lain hutan tersebut, terjadi penebangan pohon yang sudah tua, hal itu tak disadari oleh kawanan Elii. Mereka tetap asik bermain, hingga manusia yang menebangi pohon mulai mendekat ke sarang mereka. Seketika Eloo teman Elii menyadari bahwa ada pohon yang besar tiba-tiba tumbang begitu saja. Elii dan teman-temannya teriak dan berusaha menjauh dari kerumunan manusia yang menebangi pohon tersebut. Semua hewan yang disana menjadi bingung dan berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing, tetapi tidak dengan Popu.
Popu malah mendekat ke pohon besar yang tumbang tersebut. Semua hewan termasuk Elii putrinya terlihat bingung melihat yang dilakukan Popu, bundanya itu. Ternyata hanya Popu yang menyadari bahwa pohon besar yang ditebang itu terdapat sarang Popo suaminya. Popu berharap Popo dapat menyelamatkan dirinya, namun kenyatannya saat itu Popo merasa sangat lelah. Popo tidak bisa bergelantungan kepohon disekitarnya, hingga akhirnya Popo terjatuh bersama tumbangnya pohon besar itu. Popu berusaha mendekat ke pohon besar yang sudah tumbang itu, dan dilihatnya kenyataan yang tak ingin dilihatnya. Tubuh Popo ditimpa ranting-ranting pohon besar itu, Popu berteriak tanda rasa sedihnya, air mata menetes dari sela matanya.
Teriakan Popu itu membuat Elii berlari menghampiri bundanya itu, disusul Eloo dan binatang laiinya. Semua tak percaya melihat Popo terbujur lemas ditimpa ranting-ranting pohon besar itu. tidak hanya sekumpulan orang utan yang berteriak, menjerit. Hewan-hewan yang melihat Popo pun berteriak dan menjerit yang menggambarkan rasa marahnya mereka melihat ulah manusia itu. Suasana hutan seketika berubah, teriakan hewan-hewan membuat manusia yang menebang pohon tersebut merasa takut, hingga akhirnya mereka menjauh dari kawanan binatang-binatang yang merumuni Popo. Popo dengan susah payah berusaha berbicara dengan Popu.
Popo: “Bunda jangan bersedih, ayah sayang bunda selamanya.”
Popu: “Ayah akan baik-baik saja kita semua akan berusaha mengobati mu.”

Popo: “Jangan biarkan mereka semua membenci manusia, ceritakan kepada mereka kisah ayah sewaktu kecil.”
Popu: “Ayah tidak boleh berbicara seperti itu, ayah yang akan menceritakan…”
Belum selesai Popu berbicara, Popo memotong pembicaraan Popu dan mengatakan “Popo selalu sayang Elii dan semuanya”. Ya dan itu menjadi kalimat terakhir yang diucapkan Popo kepada semuanya. Tangis dan teriakan semua itu bercampur menjadi satu, keadaan yang mungkin sama sekali tak berpengaruh bagi mereka manusia yang merusak alam ini.
Satu bulan setelah peristiwa itu semua berjalan seperti biasanya, Popu telah menceritakan kisah ketika Ayah Popo diburu manusia dan ketika Ibu Popo diselamatkan manusia pula. Tidak semua manusia menciderai tugasnya sebagai makhluk yang melestarikan alam ini, banyak juga yang menjaga alam ini dengan penuh tanggungjawab. Semua hewan melakukan apa yang menjadi tugasnya, menjaga alam ini semampu mereka. Orang utan juga tetap memilih makanan yang terbaik agar dapat memberi biji yang berkualitas baik pula, sebagai awal pohon, tumbuh menjadi penyeimbang bumi ini, alam semesta ini, kehidupan bagi semua makhluk Tuhan, tidak hanya manusia saja, untuk kehidupan masa depan yang indah. Kehidupan masa depan yang dimana manusia akan tetap mengenal dan menjaga hutan dengan baik bukan manusia yang akan merubah hutan sebagai pundi-pundi kekayaan semata.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar