Sebuah
kisah masa depen yang bermula dari hutan yang berada di Indonesia tepatnya di
Pulau Sumatra, yaitu hutan hujan tropis di Ekosistem Leuser.
Hutan ini memiliki pohon yang tinggi dan juga lebat, jenisnya sangat bervariasi dan selalu hijau. Selain itu kita juga dapat melihat berbagai macam tumbuhan yang menempel seperti anggrek, jamur, dan lumut. Hiasan utama hutan hujan tropis ini adalah Liana yang merupakan tumbuhan yang bergantung dan menunjang pada tumbuhan utama. Liana ada yang berbentuk tipis seperti kawat dan ada juga yang berbentuk besar yang membentuk simpul-simpul tali raksasa. Kita sering melihat Liana dalam film Tarzan, the Adventure yang digunakan Tarzan untuk bergelantungan. Karena memang beberapa diantaranya dapat mencapai panjang hingga 200 meter. Jika kita berada di lapisan dasar hutan ini, kita merasa gelap dan lembab, penuh dengan lumut, karena memang sedikit sekali cahaya matahari yang mencapai dasar yang disebabkan adanya kanopi. Kanopi terbentuk karena adanya lapisan-lapisan dari cabang pohon beserta daunnya yang tumbuh lebat dan karena pohon di hutan ini tumbuh cukup rapat.
Hutan ini memiliki pohon yang tinggi dan juga lebat, jenisnya sangat bervariasi dan selalu hijau. Selain itu kita juga dapat melihat berbagai macam tumbuhan yang menempel seperti anggrek, jamur, dan lumut. Hiasan utama hutan hujan tropis ini adalah Liana yang merupakan tumbuhan yang bergantung dan menunjang pada tumbuhan utama. Liana ada yang berbentuk tipis seperti kawat dan ada juga yang berbentuk besar yang membentuk simpul-simpul tali raksasa. Kita sering melihat Liana dalam film Tarzan, the Adventure yang digunakan Tarzan untuk bergelantungan. Karena memang beberapa diantaranya dapat mencapai panjang hingga 200 meter. Jika kita berada di lapisan dasar hutan ini, kita merasa gelap dan lembab, penuh dengan lumut, karena memang sedikit sekali cahaya matahari yang mencapai dasar yang disebabkan adanya kanopi. Kanopi terbentuk karena adanya lapisan-lapisan dari cabang pohon beserta daunnya yang tumbuh lebat dan karena pohon di hutan ini tumbuh cukup rapat.
Hutan hujan tropis ini merupakan habitat yang nyaman untuk berbagai
macam serangga yang memiliki warna yang tak kalah indah seperti warna pelangi.
Selain itu, juga terdapat katak pohon, kadal, ular, burung, tupai, monyet,
orang utan hingga binatang buas sepeti harimau. Ribuan bahkan ratusan tahun
yang lalu hutan ini memang merupakan habitat yang sangat nyaman bagi
hewan-hewan tersebut. Lantas bagaimana dengan sekarang, dan bahkan tahun-tahun
kedepan? Masihkah nyaman bagi mereka? Apa atau siapa yang menyebabkan ketidak
nyamanan hewan-hewan tersebut tinggal dirumahnya sendiri? Apa pedulinya manusia
bila mereka tidak nyaman, bukankah manusia kebanyakkan tidak hidup berdampingan
dengan mereka di hutan? Tapi, apa benar manusia tidak akan merasakan, dampak
buruk dari ketidaknyamanan mereka?
Telah disebutkan
bahwa hutan hujan tropis merupakan habitat dari orang hutan. Mari kita intip kisah Pongo abelii yang kita kenal dengan sebutan Orang Utan Sumatra. Dibenak saya timbul
pertannyaan, kenapa namanya harus orang utan yang berarti orang atau manusia yang
tinggal di hutan, atau mungkin memang Pongo abelii ini manusia
yang dikutuk menjadi hewan?
Di sebuah sarang yang terbuat dari ranting, daun pohon yang dibuat
pada pohon yang tinggi dan besar, terlihat ada dua orang utan yang tidur dengan
pulasnya. Ada sang betina, Popu dan satu anaknya yang masih kecil, Elii . Elii masih tinggal bersama Popu karena usianya yang masih 3 tahun. Di sarang
itu tak terlihat sang jantan menemani mereka, karena memang kehidupan orang
utan jantan
dewasa umumnya penyendiri.Berbeda dengan sang betina sering terlihat bersama anaknya
yang berusia dibawah 7 tahun.
Waktu menunjukan pukul 05.00 saatnya orang utan untuk bangun dan memulai mencari makan. Setiap harinya Popu membangunkan Elii untuk segera mencari makan. Makanan orang utan terdiri dari 60 % buah, 20 % bunga, 10% daun muda dan kulit kayu, dan 10% serangga.
Popu : “Dek
bangun, bangun..ini sudah jam 05.00 ” sambil
membelai kepala Elii.
Elii : “5
menit lagi ya bunda” menyingkirkan
tangan sang bunda.
Popu : “Tidak ada nanti-nanti, ayo bangun sekarang!” dengan nada yang ditinggikan.
Tak lama kemudian Elli
pun bangun, raut mukanya masih tergambar jelas rasa kantuk. Karena mau tak mau
dia harus menuruti perintah bunda, karena Elii tau itu semua baik untuk masa
depannya.
Popu : “Anak
bunda yang pandai, walau sekarang kamu masih belum terbiasa bangun pagi tapi
nanti kamu pasti akan terbiasa” mengelus-elus
kepala Elii.
Elii : “Iya
bundaku tersayang” sambil tersenyum
manja.
Popu : “Selama
ini bunda sudah mengajarkan kamu cara memanjat yang baik dan memilih makanan,
jadi yang memilih makanan untuk hari ini adalah kamu dan bunda hanya menemani
saja, setuju?” bertanya kepada Elii
Elii : “Setuju
bunda, aku akan berusaha melakukan yang terbaik” menjawab dengan rasa penuh percaya diri.
Hari itu Elii merasa
senang sekali, walau melakukan perjalanan sejauh 850m. Capek tak dirasakannya
karena Elii melihat bundanya tersenyum bangga. Sang bunda bangga melihat
keberhasilan Elii memilih makanan dan tidak terjatuh saat memanjat pepohonan. Rasa
bangga itu tak semata-mata karena keberhasilan anaknya, tapi karena teringat usaha Elii. Berkali-kali terjatuh dari berlatih memanjat, Elii tetap semangat dan sama
sekali tak mengeluh kepadanya.
Popo sang jantan,
ayah dari Elii memanggil Elii dan teman-temannya yang masih
berusia 3tahunan. Elii dan teman-temannya sangat senang karena mereka tau Popo
akan berbagi crita. Sebelumnya Popo telah berjanji apabila Elii dan temannya
sudah bisa memanjat dengan baik dan mampu mencari makan, Popo akan bercerita
tentang masalalu nenekmoyang mereka. Elii dan temannya sangat penasaran karena
banyak binatang-binatang di hutan yang sering membicarakan nenenkmoyangnya.
Mereka juga sempat mendengar bahwa orang utan sekarang sebenarnya sudah
terancam kepunahannya.
Popo memulai
cerita dengan menginformasikan bahwa luas hutan yang menjadi rumah bagi
binatang di Indonesianya dulu sangatlah luas dan rindang. Semenjak tahun 1990an
hutan di Indonesia mulai ditebangi secara berlebihan untuk berbagi alasan. Kabarnya hutan yang
menjadi rumah kita ini luasnya mulai hilang rata-rata 1,87 juta
ha/ tahun. Popo juga menyatakan bahwa rumah orang utan dan binatang lainnya
yang hidup di hutan telah kehilangan 80% wilayahnya, dalam waktu kurang dari 20
tahun. Sekarang
ini, hanya 30% habitat orangutan yang dilindungi. Taman nasional, hutan lindung dan cagar alam.
Sementara 70% tempat tinggal orangutan berada di luar daerah yang dilindungi, tidak
ada yang bisa menjamin kehidupan mereka disana.
Popo tiba-tiba terdiam sejenak kemudian melihat sekelilingnya lalu memandang Elii dan teman-temannya sambil berkata: “Apa kalian masih ingin mendengar cerita ini?” Mereka menjawab masih ingin mendengarkan cerita Popo walau yang semula wajah mereka senang, sekarang berubah menjadi sedih karena membayangkan cerita Popo.
Popo tiba-tiba terdiam sejenak kemudian melihat sekelilingnya lalu memandang Elii dan teman-temannya sambil berkata: “Apa kalian masih ingin mendengar cerita ini?” Mereka menjawab masih ingin mendengarkan cerita Popo walau yang semula wajah mereka senang, sekarang berubah menjadi sedih karena membayangkan cerita Popo.
Cerita Popo tersebut menarik
perhatian binatang-binatang lainnya seperti katak pohon, kadal, ular, burung, tupai, monyet,
kupu-kupu hingga akhirnya mereka bersama-sama mendengarkan cerita Popo dengan
seriusnya.
Popo : “Sebelum melanjutkan cerita ada yang mau ditanyakan?
Popy
(teman Elii): “Saya
mau tanya Paman,untuk apa manusia menebang hutan, apa hutan ini tidak
bermanfaat bagi manusia?” Sambil
mengangkat tangannya.
Popo : “Pertannyaan
yang bagus, manusia menebang hutan bukan karena mereka tidak mendapatkan
manfaat dari hutan ini. Justru mereka memanfaatkan kayu dari hutan ini untuk
berbagai kebutuhan mereka, tapi mereka lupa. Mereka lupa manfaat hutan tidak
hanya itu saja, tidak hanya untuk mereka saja. Popo sambil melihat sekeliling hutan. Hutan sebagai sumber air, pangan dan
udara yang bersih dan sebenarnya manusia juga memerlukan sumber ilmu
pengetahuan, rekreasi dan pariwisata, karena keanekaragaman hewan dan tumbuhan
begitu juga dengan hutan yang bagus akan mendatangkan wisatawan”
Elii : “Kalau seperti itu bukannya manusia sebenarnya bisa menanam kembali
pohon yang ada di hutan ini, ayah? Elii
bertanya dengan polosnya. “Itu kan
mudah, jadi hutan akan tetap ada dan akan tetap bermanfaat bagi kita semua,
termasuk manusia sendiri.”Timpal
Elii
Popo : “Pandai
sekali anak ayah ini, namun sayangnya masalah tidak hanya menebang hutan untuk
diambil kayunya, tapi manusia juga membuka lahan hutan untuk menjadi perkebunan dan
pertambangan secara besar-besaran. Seperti yang ayah bilang tadi, manusia lupa.
Jika mereka mengambil manfaat hutan hanya untuk kebutuhan saat ini, mungkin masa
depan generasi mereka akan hidup tanpa hutan. Artinya jutaan species yang telah terbentuk selama ribuan
tahun yang lalu akan hilang begitu saja, termasuk kita ini. dan
” Terhenti karena celetus Ello.
Eloo (anak orang utan yang mendekati
Elii): Manusia itu penjahat! Celetus Ello dengan nada yang cukup kesal,
memotong pembicaraan Popo.
Popo: “Sebenarnya
tidak seperti itu juga, karena jika kita perhatikan hanya sedikit manusia yang
merusak hutan. Sayangnya mereka manusia yang baik hanya bisa diam saja
tak mampu berbuat apa-apa. Jadi kita jangan menyalahkan manusia atau bahkan
membencinya, karena sebenarnya mereka kasihan. Mereka yang merusak hutan ini, benar-benar
kasihan karena melupakan kodratnya sebagai makhluk paling sempurna, yang
diciptakan Tuhan untuk melestarikan bumi ini.” Nasihat Popo.
Eloo: “Benar
juga sih Paman, beberapa waktu yang lalu aku melihat sekelompok manusia ada
dihutan, mereka tidak merusak hutan ini, bahkan mereka nampak memperhatikan
hutan ini dan ada pula yang menanam beberapa pohon Paman.” Ucap
Eloo dengan nada yang tidak kesal lagi. “Pada waktu itu aku melihat raut
muka mereka terlihat begitu menyayangi hutan ini Paman, seperti aku yang begitu
menyayangi putri Paman, Elii yang begitu cantik.” Rayu
Eloo, dengan mengedipkan satu matanya.
Semua yang mendengarkan rayuan Eloo memandang Elii dan
menggodanya termasuk burung-burung yang memperhatikan cerita Popo.
Popo mengatakan akan melanjutkan bercerita kepada anak-anak
orang utan, apa bila mereka semua sudah dapat membuat sarang. Hal itu dilakukan
Popo untuk mengajarkan kepada mereka semua, apabila ingin mendapatkan sesuatu
yang mereka inginkan, mereka harus berusaha terlebih dahulu. Popo memang orang
utan yang luar biasa, tak banyak orang utan jantan dewasa di hutan itu yang
memberikan pembelajaran bagi anak orang utan. Hal itu mungkin karena pengalaman Popo
yang begitu menyedihkan.
Pengalaman ketika harus melihat ayahnya pergi
meninggalkannya, bukan meninggalkan hutan karena keinginannya tapi karena
manusia yang memaksakannya. Manusia yang memaksakannya, beberapa manusia yang
memaksakan keegoisannya. Manusia memburunya dan membawanya pergi untuk
dijadikan binatang peliharaan manusia. Peliharaan manusia untuk dirawat dan disayangi dirumah atau
untuk prestis semata, hanya manusia itu yang tau.
Ketika itu Popo benar-benar membenci manusia, dia menganggap
semua manusia itu sama, sama-sama penjahat, sama-sama tidak memiliki belas
kasihan, sama-sama selalu memikirkan dirinya sendiri. Setelah ayahnya pergi
Popo hanya bisa termenung disarang, yang teringat hanya tetes air mata ayahnya
ketika dikerangkeng dan dimasukan kedalam kotak besi yang semakin lama-semakin
menjauh. Menjauh darinya yang hanya bisa terdiam melihat ayahnya yang tidak
akan pernah dilihatnya lagi. Popo merenungkan semua itu dan tetap menyalahkan
dirinya yang tak bisa berbuat apa-apa melihat ayahnya pergi begitu saja.
Ibu Popo sangat sedih
melihat Popo seperti itu, hingga akhirnya ibu Popo nekat pergi dari hutan untuk
membawa pulang ayah Popo. Hal yang tidak mungkin bisa terwujud, tapi Ibu Popo
menganggap hal itu lebih baik dari pada dia, harus melihat anaknya termenung
sepanjang hari.
Ditengah perjalanan ibu Popo bertemu dengan Harimau. Ya Harimau, predator yang diciptakan alam untuk orang utan. Ibu Popo nampak pucat dan mulai ketakutan, dia mengeluarkan suara yang sangat keras yang terdengar seperti “grumph”. Suara itu terdengar oleh Popo yang termenung di sarangnya, yang berada kurang lebih 600meter dari posisi Ibunya. Popo tersadar itu suara ibunya, dia langsung bergelantungan dengan cepat untuk menghampiri suara yang terdengar minta tolong itu.
Ditengah perjalanan ibu Popo bertemu dengan Harimau. Ya Harimau, predator yang diciptakan alam untuk orang utan. Ibu Popo nampak pucat dan mulai ketakutan, dia mengeluarkan suara yang sangat keras yang terdengar seperti “grumph”. Suara itu terdengar oleh Popo yang termenung di sarangnya, yang berada kurang lebih 600meter dari posisi Ibunya. Popo tersadar itu suara ibunya, dia langsung bergelantungan dengan cepat untuk menghampiri suara yang terdengar minta tolong itu.
Popo sekuat tenaga bergelantungan dari satu pohon ke pohon
yang lainya, sayang waktu itu Popo masih belum lincah, belum cepat. Popo nampak
lelah bergelantungan, tapi hal itu tidak dirasakannya. Air mata Popo menetes, Popo
takut tidak akan melihat ibunya lagi, Popo takut manusia membawa Ibunya pergi,
Popo takut akan hidup sendirian tanpa orang tuanya, Popo takut hidup dengan
terus membenci manusia.
Setibanya di tempat ibunya, Popo nampak terkejut, yang
dilihatnya bukan manusia tapi seekor harimau yang hendak menerkam Ibunya. Popo
berusaha menyelamatkan Ibunya dengan cara melompat ketubuh harimau. “Darr” terdengar suara tembakan.
Tembakan yang diarahkan ke langit oleh polisi hutan yang kebetulan melintas
disana. Suara itu membuat harimau takut dan meninggalkan Ibu Popo. Popo
langsung menghampiri Ibunya dan Popo melihat darah keluar dari lengan Ibunya
itu, hal itu membuat Popo semakin sedih dan menangis, Popo langsung memeluk Ibunya.
Polisi hutan, langsung memisahkan mereka berdua, Popo semakin takut, takut
Ibunya akan dibawa pergi Polisi hutan itu. Raut muka Popo menggambarkan rasa
takutnya itu, namun rasa takut itu tiba-tiba berubah. Polisi hutan dan pecinta
alam, menyelamatkan Ibu Popo, mereka selalu siap dengan obat-obatan yang ada
ditasnya. Mereka segera merawat luka lengan Ibu Popo, yang syukurnya tidak
begitu parah.
Setelah kejadian itu Ibu popo menasihati popo, dia
menasihati Popo untuk tidak membenci manusia, karena tidak semua manusia itu
jahat. Bahkan mereka yang memburu binatang dan merusak hutan sebenarnya tidak
lebih banyak dari mereka yang baik. Peristiwa-peristiwa yang dialami Popo
tersebut membuat Popo tumbuh menjadi remaja yang luar biasa.
Sudah hampir satu bulan anak orang utan belajar membuat
sarang dengan baik, dan itu tandanya Popo akan melanjutkan ceritanya kepada
mereka. Mungkin yang akan diceritakan Popo kali ini tentang pengalaman
pribadinya. Popo mengumpulkan semua anak orang utan yang berada dalam satu
kelompoknya, dan masih sama dengan keadaan sebelumnya, banyak hewan yang ingin
mendengarkan cerita Popo dan malah kali ini lebih ramai.
Eloo: “Paman mengumpulkan kami sekarang ini, pasti
karena paman sudah melihat kami bisa membuat sarang dengan baik kan paman?” Tanya Eloo penuh rasa senang.
Popo: “Anak yang pintar, Elii” Popo memanggil Elii. “Eloo nampaknya cocok dengan mu anakku.”
Popo menggoda Elii dan Eloo, semua
yang mendengar tertawa senang melihatnya.
Eloo: “
Ah paman bisa aja, tp itu memang benar paman.” Eloo tersenyum lebar. Paman, bagaimana kalu aku bertanyaa
sama paman, boleh?
Popo: “Tentu
saja boleh Eloo, apa yang ingin kamu tanyakan?
Eloo: “Pertannyaanku
ini mungkin juga menjadi pertanyaan semuanya Paman, aku pernah mendengar dari
burung-burung, kalau kita ini termasuk hewan yang akan punah Paman, apa itu
benar?” Tanya Eloo dengan wajah seriusnya.
Popo terkejut mendengar
pertanyaan Eloo. Namun Popo merasa bertanggungjawab untuk menjawab pertannyaan
itu, karena memang hak mereka untuk mengetahuinya. Popo menjelaskan bahwa banyak
penyebab mengapa orang utan di katakan hewan yang akan punah. Penyebab pertama
karena berkurangnya habitat orang utan yaitu hutan. Manusia mengeksplorasinya
secara berlebihan dan terjadinya kebakaran. Kebakaran tak hanya menghanguskan
hutan ini namun juga mengakibatkan tak jarang ada otang utan yang mati
karenanya. Sebab yang kedua adalah dampak dari hutan ini yang semakin berkurang
luasnya, yaitu perkelahian yang
terjadi diantara kami, pejantan. Pejantan melakukan perebutan area, akibat penyempitan wilayah hutan ini.
Penyabab selanjutnya adalah masa reproduksi kita sangatlah lamban.
Orangutan betina yang berada dihutan ini dalam kurun waktu 6-7 tahun hanya dapat
melahirkan sebanyak satu kali saja. Tidak hanya itu saja, perburuan liar juga
menjadi penyebabnya. Tidak sedikit orang utan mati karena manusia menjadikan orang utan sebagai peliharannya, tidak mampu menjaganya secara baik
dan benar.
Semua yang mendengar cerita Popo tersebut menjadi sedih, hal
itu nampak jelas tergambar diraut mereka. Popo tak hanya diam, Popo langsung
mencritakan hal yang dipikirkannya akan membuat anak orang utan menjadi bangga. Popo menceritakan nenek
moyang mereka ikut andil dalam regenerasi hutan.
400 jenis tumbuhan dapat berregenerasi di hutan melalui buah-buahan dan biji-bijian yang nenek moyang mereka makan, dan manusia menyebut hal itu seed disperser. Oleh karena itu bunda kalian mengajarkan kalian untuk mencari makanan yang benar, karena hal itu agar nantinya biji yang dikeluarkan akan menjadi bibit yang baik dan kelak menjadi pohon yang lebat.
400 jenis tumbuhan dapat berregenerasi di hutan melalui buah-buahan dan biji-bijian yang nenek moyang mereka makan, dan manusia menyebut hal itu seed disperser. Oleh karena itu bunda kalian mengajarkan kalian untuk mencari makanan yang benar, karena hal itu agar nantinya biji yang dikeluarkan akan menjadi bibit yang baik dan kelak menjadi pohon yang lebat.
Popy: “Jadi punahnya kita nanti akan mempengaruhi hilangnya ratusan spesies tanaman
dan hewan pada ekosistem hutan ini dong paman?” Tanya Popy
Popo: “
Tepat sekali, Popy” Jawab Popo santai.
Semua: “wah
jadi kita ini hebat ya, orang utan itu penting untuk alam ini.”
Eloo: “Benarkan
paman kita ini hewan yang hebat kan?” Pertanyaan
penegasan Eloo dengan rasa bangga.
Popo: “Iya,
memang sudah seharusnya semua makhluk hidup menjadi manfaat untuk alam ini,
jadi kita juga harus bisa melestarikan alam ini.”
Semua: “Setuju
pamaaaan” teriak semua penuh rasa
bangga dan semangat.
Popo juga menegaskan pohon yang dapat tumbuh dan
menghiasi hutan ini dapat mengurangi polusi dan banjir yang terjadi. Oksigen
yang dihasilkan hutan akan menyelamatkan dunia dari ancaman gas yang
membahayakan. Akar yang tumbuh subur di dalam tanah dapat menyerap air ketika
hujan lebat dan mengurangi air mencapai pemukiman penduduk.
Disisi lain hutan tersebut, terjadi penebangan pohon yang
sudah tua, hal itu tak disadari oleh kawanan Elii. Mereka tetap asik bermain,
hingga manusia yang menebangi pohon mulai mendekat ke sarang mereka. Seketika
Eloo teman Elii menyadari bahwa ada pohon yang besar tiba-tiba tumbang begitu
saja. Elii dan teman-temannya teriak dan berusaha menjauh dari kerumunan
manusia yang menebangi pohon tersebut. Semua hewan yang disana menjadi bingung
dan berusaha menyelamatkan dirinya masing-masing, tetapi tidak dengan Popu.
Popu malah mendekat ke pohon besar yang tumbang tersebut.
Semua hewan termasuk Elii putrinya terlihat bingung melihat yang dilakukan Popu,
bundanya itu. Ternyata hanya Popu yang menyadari bahwa pohon besar yang
ditebang itu terdapat sarang Popo suaminya. Popu berharap Popo dapat
menyelamatkan dirinya, namun kenyatannya saat itu Popo merasa sangat lelah.
Popo tidak bisa bergelantungan kepohon disekitarnya, hingga akhirnya Popo
terjatuh bersama tumbangnya pohon besar itu. Popu berusaha mendekat ke pohon
besar yang sudah tumbang itu, dan dilihatnya kenyataan yang tak ingin
dilihatnya. Tubuh Popo ditimpa ranting-ranting pohon besar itu, Popu berteriak
tanda rasa sedihnya, air mata menetes dari sela matanya.
Teriakan Popu itu membuat Elii berlari menghampiri bundanya
itu, disusul Eloo dan binatang laiinya. Semua tak percaya melihat Popo terbujur
lemas ditimpa ranting-ranting pohon besar itu. tidak hanya sekumpulan orang
utan yang berteriak, menjerit. Hewan-hewan yang melihat Popo pun berteriak dan
menjerit yang menggambarkan rasa marahnya mereka melihat ulah manusia itu.
Suasana hutan seketika berubah, teriakan hewan-hewan membuat manusia yang
menebang pohon tersebut merasa takut, hingga akhirnya mereka menjauh dari
kawanan binatang-binatang yang merumuni Popo. Popo dengan susah payah berusaha
berbicara dengan Popu.
Popo: “Bunda
jangan bersedih, ayah sayang bunda selamanya.”
Popu: “Ayah
akan baik-baik saja kita semua akan berusaha mengobati mu.”
Popo: “Jangan biarkan mereka semua membenci manusia, ceritakan kepada mereka kisah ayah sewaktu kecil.”
Popu: “Ayah
tidak boleh berbicara seperti itu, ayah yang akan menceritakan…”
Belum selesai Popu berbicara, Popo memotong pembicaraan Popu
dan mengatakan “Popo selalu sayang Elii dan semuanya”. Ya dan itu menjadi
kalimat terakhir yang diucapkan Popo kepada semuanya. Tangis dan teriakan semua
itu bercampur menjadi satu, keadaan yang mungkin sama sekali tak berpengaruh
bagi mereka manusia yang merusak alam ini.
Satu bulan setelah peristiwa itu semua berjalan seperti
biasanya, Popu telah menceritakan kisah ketika Ayah Popo diburu manusia dan
ketika Ibu Popo diselamatkan manusia pula. Tidak semua manusia menciderai
tugasnya sebagai makhluk yang melestarikan alam ini, banyak juga yang menjaga alam
ini dengan penuh tanggungjawab. Semua hewan melakukan apa yang menjadi
tugasnya, menjaga alam ini semampu mereka. Orang utan juga tetap memilih
makanan yang terbaik agar dapat memberi biji yang berkualitas baik pula, sebagai
awal pohon, tumbuh menjadi penyeimbang bumi ini, alam semesta ini, kehidupan
bagi semua makhluk Tuhan, tidak hanya manusia saja, untuk kehidupan masa depan
yang indah. Kehidupan masa depan yang dimana manusia akan tetap mengenal dan
menjaga hutan dengan baik bukan manusia yang akan merubah hutan sebagai pundi-pundi
kekayaan semata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar