Duduk
santai di teras rumah menikmati sore hari, melihat anak kecil bermain gembira,
saya menjadi tersadar usia saya sudah jauh di atas mereka, tanpa aku sadari aku
termenung. Sebenarnya apa arti dari saya tumbuh jika saya tidak lebih baik dari
pada ketika saya masih kecil? Lalu apa arti saya sekolah kejenjang yang lebih
tinggi jika saya hanya semakin pandai berteori dan semakin jauh dari praktik?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukan seolah apa yang saya jalani selama ini nampak sia-sia belaka. Ketika saya berfikir ulang sebenarnya tidak ada yang sia-sia didunia ini kecuali kemalasan yang saya tekuni. Tidak lebih baiknya saya dibandingkan masa kecil dan hanya pandai berteori mungkin karena rasa malas itu. Malas untuk melakukan apa yang saya pelajari, malas untuk melakukan apa yang saya yakini itu benar, dan malas untuk melakukan sesuatu yang saya pikirkan. Kunci dari sia-sianya pertumbuhan dan jenjang pendidikan yang lebih tinggi dikehidupan saya nampaknya rasa malas itu.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukan seolah apa yang saya jalani selama ini nampak sia-sia belaka. Ketika saya berfikir ulang sebenarnya tidak ada yang sia-sia didunia ini kecuali kemalasan yang saya tekuni. Tidak lebih baiknya saya dibandingkan masa kecil dan hanya pandai berteori mungkin karena rasa malas itu. Malas untuk melakukan apa yang saya pelajari, malas untuk melakukan apa yang saya yakini itu benar, dan malas untuk melakukan sesuatu yang saya pikirkan. Kunci dari sia-sianya pertumbuhan dan jenjang pendidikan yang lebih tinggi dikehidupan saya nampaknya rasa malas itu.
Jika
diperbolehkan bertanya bagaimana dengan anda, apakah
anda lebih baik dari masa kecil anda? Apakah jenjang pendidikan yang semakin tinggi membuat anda pandai berteori dan juga praktik? Jangan terburu-buru untuk menjawabnya. Saya berharap anda tidak seperti saya, karena saya melihat masih banyak orang yang benar-benar tumbuh menjadi lebih baik, benar-benar pandai berteori juga semakin pandai praktiknya.
anda lebih baik dari masa kecil anda? Apakah jenjang pendidikan yang semakin tinggi membuat anda pandai berteori dan juga praktik? Jangan terburu-buru untuk menjawabnya. Saya berharap anda tidak seperti saya, karena saya melihat masih banyak orang yang benar-benar tumbuh menjadi lebih baik, benar-benar pandai berteori juga semakin pandai praktiknya.
Mari
sejenak kita mengingat masa ketika kita masih kecil, masa dimana kita
mengerjakan ulangan dengan percaya diri. Benar atau tidak jika saya mengatakan
hal tersebut? Ingat masa SD ketika kita ulangan? Guru melarang kita untuk
mencontek, kita mematuhinya dengan menghabiskan waktu ulangan dengan
mengerjakan sendiri, lucunya kita menutupi jawaban kita agar tidak dicontek
teman kita. Kita merasa malu jika kita bekerjasama dengan teman kita dalam hal
yang tidak baik. tapi ketika kita SMP, SMA dan bahkan diperguruan tinggi kita tidak ragu-ragu untuk mengatakan teman
kita pelit karena dia menutupi jawabannya. Saya rasa kepercayaan diri semasa kecil
kita mulai hilang. Semakin bertambah jenjang pendidikan, kita lebih
berorientasi pada “besok saya akan duduk dekat siA dia anak yang pandai dan
baik, jadi saya bisa mencontek dengan mudah”; atau bahkan kita lebih memikirkan
bagaimana cara untuk mencontek yang efesian dan efektif, yang akhirnya kita
menjadi malas untuk belajar. Sangat berbeda ketika kita masih SD, kita
berorientasi “saya harus lebih giat belajar agar besok dapat mengerjakan soal ulangan
dengan baik”. Satu bukti sudah menunjukan saya tidak tumbuh lebih baik dan
jenjang pendidikan yang semakin tinggi malah menjauhkan saya dari teori
kejujuran, karena praktiknya saya mencontek, brarti saya tidak jujur. Saya
malas untuk melakukan pelajaran yang saya pelajari bahwa kejujuran adalah
tindakan yang membawa kita kekeadaan yang lebih baik.
Masih
ingatkan dengan soal-soal Pendidikan Kewarganegaraan semasa kita SD dulu?
Mengerjakan soal-soal tersebut sangatlah mudah bahkan tidak butuh waktu lama
menyelesaikannya. Dimana kita harus membuang sampah? Jawabanya sangat mudah,
membuang sampah pada tempat sampah. Saya rasa semua jawabanya sama walau dengan
kalimat yang berbeda, tapi yang menjadi masalah apakah praktik yang kita lakukan
sama dengan jawaban kita. Saya bahkan merasa tidak ragu membuang bungkus permen
di dalam kelas walau di sudut kelas jelas ada tempat sampah. Hal yang sama yang
dilakukan orang-orang yang saya jumpai di taman kota, mereka juga tidak ragu
membuang botol minuman di taman yang indah dengan bunga-bunga, padahal jelas
disediakan tempat sampah di sana. Saya berfikir kembali apakah jawaban mereka
sama dengan jawaban saya, ketika menjawab soal dimana kita harus membuang
sampah. Saya rasa akan lebih baik jawaban mereka salah agar tidak seperti saya,
yang hanya pandai berteori dan terlihat bodoh dalam hal praktiknya. Lagi-lagi
karena saya malas untuk melakukan sesuatu yang saya yakini benar. Saya
mengetahui teori bahwa membuang sampah yang benar adalah di tempat sampah,
sayang praktiknya saya tidak melakukan hal yang saya yakini itu benar. Saya
rasa ini bukti kedua pertumbuhan saya dan jenjang pendidikan yang lebih tinggi
yang saya jalani menjadi sia-sia, penyebabnya masih sama, malas!
Tiba-tiba
ibu sudah ada didepan ku, beliau mengingatkanku tentang acara yang harus aku
lakukan besok. Beliau bertanya apakah aku sudah menyiapkan segala yang
dibutuhkan. Saya menyiapkan baju dan sepatu yang akan saya gunakan, masalahnya
sekarang baju belum disetrika dan sepatu masih kotor, benar-benar menyebalkan.
Apabila tidak diingatkan mungkin besok saya akan sangat kerepotan, nampaknya
saya benar-benar belum tumbuh dewasa. Saya menyadari hal ini tidak akan terjadi
apabila saya melanjutkan kebiasaan masa kecil, dimana hari minggu saya gunakan
untuk melakukan banyak aktivitas salah satunya yaitu membersihkan sepatu. Seminggu
sekali pasti saya membersihkan sepatu, jadi sepatu yang saya pakai tidak pernah
terlihat kotor. Tidak seperti sekarang saya membersihkan sepatu menunggu sepatu
terlihat sangat kotor. Tidak semakin baik namun semakin buruk saja nampaknya
kebiasaan saya ini. Hilangnya entah karena apa kebiasaan baik masa kecil saya
itu, apa karena saya merasa sepatu yang saya pakai tidak lebih kotor dibandingkan
sepatu milik teman. Jika alasan saya itu, jelas terlihat sifat sombong telah
menempel di diri ini, tapi saya berharap tidak. Sekali lagi saya lebih memilih
menyalahkan malas dalam diri ini.
Selesai
menyiapkan keperluan untuk besok saya kembali ke teras, anak kecil masih
bermain-main tampak satu anak hanya duduk di depan pagar rumah saya. Saya rasa
dia kelelahan karena sudah dari tadi bermain, saya menghampirinya dan bertanya
padanya. Setelah asik menggodanya tiba-tiba saja saya terpikir akan menjadi apa
dia kelak, saya menayakan apa yang menjadi cita-citanya. Cita-citanya
mengingatkan saya kepada cita-cita semasa kecil, kami memiliki cita-cita yang
sama yaitu menjadi guru. Apapun cara yang dia tempuh saya berharap berbeda
dengan cara yang saya tempuh. Seiring bertambahnya usia, saya terlalu banyak
berpikir apakah mungkin saya menjadi guru sedangkan banyak orang yang berminat
untuk menjadi guru sekarang ini. Apa mungkin saya mendapatkan peluang untuk
menjadi guru sedangkan permintaan guru tidak sebanding dengan luar biasa
banyaknya penawaran guru.
Semasa
kecil saya meyakini akan keterwujudan cita-cita itu, saya memikirkan apa saja
yang harus dilakukan untuk mewujudkannya, seperti berfikir harus belajar giat,
dan kulaih di jurusan pendidikan namun kenyataannya saya malas untuk melakukan
apa yang saya pikirkan. Rasa percaya akan keterwujudan cita-cita semasa kecil
seolah menjauh dari hidupku dan digantikan dengan keragu-raguan dan lagi-lagi
karena malas ini.
Entah
apa yang saya lakukan sore tadi, sekedar lanturan ataukah sebenarnya saya mulai
bosen. Bosan membiarkan hidup ini menjadi orang yang merugi karena kemalasan
yang saya tekuni, bosan karena tidak bisa menjadi manfaat bagi banyak orang,
dan bosan dengan rasa nyaman yang membuat pertumbuhan ini tidak lebih baik dari
masa kecilku; yang membuat jenjang pendidikan yang semakin tinggi menjauhkan
saya dari praktik yang seharusnya dilakukan. Bukan pertumbuhan dan jenjang
pendidikan yang salah, hanya saja rasa malas melakukan sesuatu itu yang membuat
mereka nampak sia-sia. Saya bosan akan semua ini, saya harus bisa melepaskan
baju kesia-siaan ini dari kehidupan ini, bukan nanti atau bahkan besok tapi
sekarang, waktu ini juga!
Tidak
sedikit saya membaca, mendengar dan bahkan menjumpai orang-oarng yang luar
biasa, mereka bermanfaat bagi banyak orang, setiap tindakan mereka untuk
menyenangkan Tuhan. Kehidupan mereka tidak mudah, hidup jauh dari rasa nyaman tapi
bermanfaat bagi banyak orang itu lebih baik kedengaranya, caci maki dari orang-orang
yang tidak menyenaginya tidak jarang hinggap di telinganya namun hatinya tetap
tersenyum karena Tuhan. Saya memilih merubah cara hidup ini agar bisa menjadi
seperti mereka. Menjauhkan kebiasaan malas, memulai melakukan hal yang terkecil
agar siap menjadi hal yang luar biasa bagi banyak orang, hal ini yang saya
pikirkan sekarang.
Bukan
untuk menjadi lebih baik dari orang lain, tapi bagaimana agar kehidupan saya
ini menjadi lebih baik dari hari sebelumnya. Ketika kecil bisa mengingat a-z,
sekarang sudah harus bisa menyusunya dan kelak harus bisa memahaminya. Lagi dan
lagi praktiknya tidak semudah teorinya. Ketika kita ingin berubah untuk menjadi
lebih baik, keinginan yang ada dipikiran kita saja tidak cukup, harus ada rasa
percaya dan kerja keras untuk mewujudkan perubahan baik itu. Tidak mudah dan
sulit yang saya rasakan, namun kali ini saya tidak ingin menyerah, saya harus
bisa mengalahkan rasa malas ini. Saya tidak memungkiri, malas terkadang
membayangi langkah ini, tapi rasa percaya akan kehidupan yang lebih baik
membuat saya bisa melangkah walau susah payah, sangat sulit bahkan.
Teringat
mereka, orang-orang yang luarbiasa disana juga mengalami hal yang sama, tidak
mudah untuk menjadi luar biasa. Kerja keras, keluar dari zona nyaman, rasa
lelah dan sakit itu semua proses menuju rumah yang indah. Rumah dimana melihat
senyuman dari banyak orang, rumah dimana ridho Tuhan menyelimutinya, membangun
rumah indah itu memang tidak mudah, semua butuh perjuangan. Kehidupan saya
selama ini nyaman, malas itu mudah dan enak tapi saya hanya menjadi orang yang
rugi, saya tumbuh tidak menjadi lebih baik, jenjang pendidikan yang semakin
tinggi saya buat sia-sia belaka. Sekarang saya memilih untuk melakukan proses
yang seolah-olah berat namun yang terpenting hasilnya luar biasa indah.
Iya
seolah-olah berat karena proses perubahan dari kehidupan saya yang malas, menjadi
bermanfaat. Awalnya berat tapi hari demi
hari, sering dan semakin terbiasa, prosos yang semula berat itu menjadi hal
yang menyenangkan. Melakukan apa yang kita anggap baik, melakukan apa yang kita
pelajari, dan melakukan apa yang kita pikirkan untuk menjadi lebih baik itu
indah. Kita tumbuh menjadi lebih baik, pendidikan kita menjadi manfaat bagi
banyak orang.
Saya
memulai melakukan perubahan pada diri saya dari hal kecil, berangkat tepat
waktu di acara-acara saya misalnya. Saya rasa perubahan yang besar tidak akan
terwujud jika yang kecil saja tidak saya lakukan. Satu minggu berlalu,
kebiasaan membuang sampah pada tempatnya mulai aku pupuk, terkadang jika tempat
sampah jauh masih senang buang seenaknya tidak saya pungkiri itu. Hari demi
hari semakin terbiasa saya membuang sampah di tempat sampah, sekarang bukan
menjadi hal yang sulit saya lakukan, dan anehnya saya merasa malu jika saya
membuang sembarangan. Bukti bahwa melakukan perubahan kehal yang lebih baik itu
sulit, namun ketika kebiasaan baik itu sudah terbiasa kita lakukan hal itu
menjadi mudah untuk dijalani.
Sekarang
giliran anda menjawab pertanyaan saya, dan giliran anda pula memilih sikap apa
yang akan anda jalani untuk masa depan anda. Saya memilih untuk merubah
kehidupan saya untuk menjadi manusia yang lebih baik. Menjadikan masalalu
sebagai pembelajaran agar kelak saya tumbuh tidak sebagai manusia yang merugi,
karena saya pun tidak ingin pertumbuhan ini kalah dengan seekor katak. Saya
rasa anda juga sama, ingin lebih baik dari pertumbuhan katak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar