Sabtu, 15 Maret 2014

Kecebong Dewasanya Katak

Duduk santai di teras rumah menikmati sore hari, melihat anak kecil bermain gembira, saya menjadi tersadar usia saya sudah jauh di atas mereka, tanpa aku sadari aku termenung. Sebenarnya apa arti dari saya tumbuh jika saya tidak lebih baik dari pada ketika saya masih kecil? Lalu apa arti saya sekolah kejenjang yang lebih tinggi jika saya hanya semakin pandai berteori dan semakin jauh dari praktik?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukan seolah apa yang saya jalani selama ini nampak sia-sia belaka. Ketika saya berfikir ulang sebenarnya tidak ada yang sia-sia didunia ini kecuali kemalasan yang saya tekuni. Tidak lebih baiknya saya dibandingkan masa kecil dan hanya pandai berteori mungkin karena rasa malas itu. Malas untuk melakukan apa yang saya pelajari, malas untuk melakukan apa yang saya yakini itu benar, dan malas untuk melakukan sesuatu yang saya pikirkan. Kunci dari sia-sianya pertumbuhan dan jenjang pendidikan yang lebih tinggi dikehidupan saya nampaknya rasa malas itu.
Jika diperbolehkan bertanya bagaimana dengan anda, apakah
anda lebih baik dari masa kecil anda? Apakah jenjang pendidikan yang semakin tinggi membuat anda pandai berteori dan juga praktik? Jangan terburu-buru untuk menjawabnya. Saya berharap anda tidak seperti saya, karena saya melihat masih banyak orang yang benar-benar tumbuh menjadi lebih baik, benar-benar pandai berteori juga semakin pandai praktiknya.
Mari sejenak kita mengingat masa ketika kita masih kecil, masa dimana kita mengerjakan ulangan dengan percaya diri. Benar atau tidak jika saya mengatakan hal tersebut? Ingat masa SD ketika kita ulangan? Guru melarang kita untuk mencontek, kita mematuhinya dengan menghabiskan waktu ulangan dengan mengerjakan sendiri, lucunya kita menutupi jawaban kita agar tidak dicontek teman kita. Kita merasa malu jika kita bekerjasama dengan teman kita dalam hal yang tidak baik. tapi ketika kita SMP, SMA dan bahkan diperguruan tinggi  kita tidak ragu-ragu untuk mengatakan teman kita pelit karena dia menutupi jawabannya. Saya rasa kepercayaan diri semasa kecil kita mulai hilang. Semakin bertambah jenjang pendidikan, kita lebih berorientasi pada “besok saya akan duduk dekat siA dia anak yang pandai dan baik, jadi saya bisa mencontek dengan mudah”; atau bahkan kita lebih memikirkan bagaimana cara untuk mencontek yang efesian dan efektif, yang akhirnya kita menjadi malas untuk belajar. Sangat berbeda ketika kita masih SD, kita berorientasi “saya harus lebih giat belajar agar besok dapat mengerjakan soal ulangan dengan baik”. Satu bukti sudah menunjukan saya tidak tumbuh lebih baik dan jenjang pendidikan yang semakin tinggi malah menjauhkan saya dari teori kejujuran, karena praktiknya saya mencontek, brarti saya tidak jujur. Saya malas untuk melakukan pelajaran yang saya pelajari bahwa kejujuran adalah tindakan yang membawa kita kekeadaan yang lebih baik.
Masih ingatkan dengan soal-soal Pendidikan Kewarganegaraan semasa kita SD dulu? Mengerjakan soal-soal tersebut sangatlah mudah bahkan tidak butuh waktu lama menyelesaikannya. Dimana kita harus membuang sampah? Jawabanya sangat mudah, membuang sampah pada tempat sampah. Saya rasa semua jawabanya sama walau dengan kalimat yang berbeda, tapi yang menjadi masalah apakah praktik yang kita lakukan sama dengan jawaban kita. Saya bahkan merasa tidak ragu membuang bungkus permen di dalam kelas walau di sudut kelas jelas ada tempat sampah. Hal yang sama yang dilakukan orang-orang yang saya jumpai di taman kota, mereka juga tidak ragu membuang botol minuman di taman yang indah dengan bunga-bunga, padahal jelas disediakan tempat sampah di sana. Saya berfikir kembali apakah jawaban mereka sama dengan jawaban saya, ketika menjawab soal dimana kita harus membuang sampah. Saya rasa akan lebih baik jawaban mereka salah agar tidak seperti saya, yang hanya pandai berteori dan terlihat bodoh dalam hal praktiknya. Lagi-lagi karena saya malas untuk melakukan sesuatu yang saya yakini benar. Saya mengetahui teori bahwa membuang sampah yang benar adalah di tempat sampah, sayang praktiknya saya tidak melakukan hal yang saya yakini itu benar. Saya rasa ini bukti kedua pertumbuhan saya dan jenjang pendidikan yang lebih tinggi yang saya jalani menjadi sia-sia, penyebabnya masih sama, malas!
Tiba-tiba ibu sudah ada didepan ku, beliau mengingatkanku tentang acara yang harus aku lakukan besok. Beliau bertanya apakah aku sudah menyiapkan segala yang dibutuhkan. Saya menyiapkan baju dan sepatu yang akan saya gunakan, masalahnya sekarang baju belum disetrika dan sepatu masih kotor, benar-benar menyebalkan. Apabila tidak diingatkan mungkin besok saya akan sangat kerepotan, nampaknya saya benar-benar belum tumbuh dewasa. Saya menyadari hal ini tidak akan terjadi apabila saya melanjutkan kebiasaan masa kecil, dimana hari minggu saya gunakan untuk melakukan banyak aktivitas salah satunya yaitu membersihkan sepatu. Seminggu sekali pasti saya membersihkan sepatu, jadi sepatu yang saya pakai tidak pernah terlihat kotor. Tidak seperti sekarang saya membersihkan sepatu menunggu sepatu terlihat sangat kotor. Tidak semakin baik namun semakin buruk saja nampaknya kebiasaan saya ini. Hilangnya entah karena apa kebiasaan baik masa kecil saya itu, apa karena saya merasa sepatu yang saya pakai tidak lebih kotor dibandingkan sepatu milik teman. Jika alasan saya itu, jelas terlihat sifat sombong telah menempel di diri ini, tapi saya berharap tidak. Sekali lagi saya lebih memilih menyalahkan malas dalam diri ini.
Selesai menyiapkan keperluan untuk besok saya kembali ke teras, anak kecil masih bermain-main tampak satu anak hanya duduk di depan pagar rumah saya. Saya rasa dia kelelahan karena sudah dari tadi bermain, saya menghampirinya dan bertanya padanya. Setelah asik menggodanya tiba-tiba saja saya terpikir akan menjadi apa dia kelak, saya menayakan apa yang menjadi cita-citanya. Cita-citanya mengingatkan saya kepada cita-cita semasa kecil, kami memiliki cita-cita yang sama yaitu menjadi guru. Apapun cara yang dia tempuh saya berharap berbeda dengan cara yang saya tempuh. Seiring bertambahnya usia, saya terlalu banyak berpikir apakah mungkin saya menjadi guru sedangkan banyak orang yang berminat untuk menjadi guru sekarang ini. Apa mungkin saya mendapatkan peluang untuk menjadi guru sedangkan permintaan guru tidak sebanding dengan luar biasa banyaknya penawaran guru.
Semasa kecil saya meyakini akan keterwujudan cita-cita itu, saya memikirkan apa saja yang harus dilakukan untuk mewujudkannya, seperti berfikir harus belajar giat, dan kulaih di jurusan pendidikan namun kenyataannya saya malas untuk melakukan apa yang saya pikirkan. Rasa percaya akan keterwujudan cita-cita semasa kecil seolah menjauh dari hidupku dan digantikan dengan keragu-raguan dan lagi-lagi karena malas ini.          
Entah apa yang saya lakukan sore tadi, sekedar lanturan ataukah sebenarnya saya mulai bosen. Bosan membiarkan hidup ini menjadi orang yang merugi karena kemalasan yang saya tekuni, bosan karena tidak bisa menjadi manfaat bagi banyak orang, dan bosan dengan rasa nyaman yang membuat pertumbuhan ini tidak lebih baik dari masa kecilku; yang membuat jenjang pendidikan yang semakin tinggi menjauhkan saya dari praktik yang seharusnya dilakukan. Bukan pertumbuhan dan jenjang pendidikan yang salah, hanya saja rasa malas melakukan sesuatu itu yang membuat mereka nampak sia-sia. Saya bosan akan semua ini, saya harus bisa melepaskan baju kesia-siaan ini dari kehidupan ini, bukan nanti atau bahkan besok tapi sekarang, waktu ini juga!
Tidak sedikit saya membaca, mendengar dan bahkan menjumpai orang-oarng yang luar biasa, mereka bermanfaat bagi banyak orang, setiap tindakan mereka untuk menyenangkan Tuhan. Kehidupan mereka tidak mudah, hidup jauh dari rasa nyaman tapi bermanfaat bagi banyak orang itu lebih baik kedengaranya, caci maki dari orang-orang yang tidak menyenaginya tidak jarang hinggap di telinganya namun hatinya tetap tersenyum karena Tuhan. Saya memilih merubah cara hidup ini agar bisa menjadi seperti mereka. Menjauhkan kebiasaan malas, memulai melakukan hal yang terkecil agar siap menjadi hal yang luar biasa bagi banyak orang, hal ini yang saya pikirkan sekarang.
Bukan untuk menjadi lebih baik dari orang lain, tapi bagaimana agar kehidupan saya ini menjadi lebih baik dari hari sebelumnya. Ketika kecil bisa mengingat a-z, sekarang sudah harus bisa menyusunya dan kelak harus bisa memahaminya. Lagi dan lagi praktiknya tidak semudah teorinya. Ketika kita ingin berubah untuk menjadi lebih baik, keinginan yang ada dipikiran kita saja tidak cukup, harus ada rasa percaya dan kerja keras untuk mewujudkan perubahan baik itu. Tidak mudah dan sulit yang saya rasakan, namun kali ini saya tidak ingin menyerah, saya harus bisa mengalahkan rasa malas ini. Saya tidak memungkiri, malas terkadang membayangi langkah ini, tapi rasa percaya akan kehidupan yang lebih baik membuat saya bisa melangkah walau susah payah, sangat sulit bahkan.
Teringat mereka, orang-orang yang luarbiasa disana juga mengalami hal yang sama, tidak mudah untuk menjadi luar biasa. Kerja keras, keluar dari zona nyaman, rasa lelah dan sakit itu semua proses menuju rumah yang indah. Rumah dimana melihat senyuman dari banyak orang, rumah dimana ridho Tuhan menyelimutinya, membangun rumah indah itu memang tidak mudah, semua butuh perjuangan. Kehidupan saya selama ini nyaman, malas itu mudah dan enak tapi saya hanya menjadi orang yang rugi, saya tumbuh tidak menjadi lebih baik, jenjang pendidikan yang semakin tinggi saya buat sia-sia belaka. Sekarang saya memilih untuk melakukan proses yang seolah-olah berat namun yang terpenting hasilnya luar biasa indah.
Iya seolah-olah berat karena proses perubahan dari kehidupan saya yang malas, menjadi bermanfaat.  Awalnya berat tapi hari demi hari, sering dan semakin terbiasa, prosos yang semula berat itu menjadi hal yang menyenangkan. Melakukan apa yang kita anggap baik, melakukan apa yang kita pelajari, dan melakukan apa yang kita pikirkan untuk menjadi lebih baik itu indah. Kita tumbuh menjadi lebih baik, pendidikan kita menjadi manfaat bagi banyak orang.
Saya memulai melakukan perubahan pada diri saya dari hal kecil, berangkat tepat waktu di acara-acara saya misalnya. Saya rasa perubahan yang besar tidak akan terwujud jika yang kecil saja tidak saya lakukan. Satu minggu berlalu, kebiasaan membuang sampah pada tempatnya mulai aku pupuk, terkadang jika tempat sampah jauh masih senang buang seenaknya tidak saya pungkiri itu. Hari demi hari semakin terbiasa saya membuang sampah di tempat sampah, sekarang bukan menjadi hal yang sulit saya lakukan, dan anehnya saya merasa malu jika saya membuang sembarangan. Bukti bahwa melakukan perubahan kehal yang lebih baik itu sulit, namun ketika kebiasaan baik itu sudah terbiasa kita lakukan hal itu menjadi mudah untuk dijalani.
Sekarang giliran anda menjawab pertanyaan saya, dan giliran anda pula memilih sikap apa yang akan anda jalani untuk masa depan anda. Saya memilih untuk merubah kehidupan saya untuk menjadi manusia yang lebih baik. Menjadikan masalalu sebagai pembelajaran agar kelak saya tumbuh tidak sebagai manusia yang merugi, karena saya pun tidak ingin pertumbuhan ini kalah dengan seekor katak. Saya rasa anda juga sama, ingin lebih baik dari pertumbuhan katak.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar